Religious moderation discourse in plurality of social harmony in Indonesia

  • Yudhi Kawangung Sekolah Tinggi Agama Kristen Teruna Bakti Yogyakarta, Indonesia
Keywords: millennium generation, religious moderation, Indonesian plurality, social harmony, tolerance

Abstract

The study of religious tolerance this century has been entering the culmination point of saturation, in which it is no longer viewed relevantly with technology 4.0 or it is generally called millennium generation. Technology development is directly proportional to social life because humans enter the digital era in which the actualization and self-existence are prioritized. Therefore, in social interaction, it often makes friction and horizontal conflict and even social media felt more concerned about. Tolerance is gradually degraded in its implementation because it is assumed that tolerance givers have a higher level (majority) than the recipient of tolerance (minority). In this case, the tolerance model needs contextual modification, namely religious moderation as a fundamental of more acceptable social interaction among citizens and netizens.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Ariyanto, D. Subagyo. 2004. Genetic viability and evaluation heterosis in crosses between strains within common carp species. Zuriat, 15(118), e24.

Atmaja, I.B.O.P. (1996). Manusia Seutuhnya dari Sudut Ajaran Hindu” dalam Peranan Agama-Agama Dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dalam Negara Pancasila Yang Membangun. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Bouman. (2004). Sistem Sosial Indonesia. Yogyakarta: STPMD.

Carson, D. A. (2002). The gagging of God: Christianity confronts pluralism. Zondervan.

Clendenin, D. B. (1995). Many gods, many lords: Christianity encounters world religions. Baker Books.

Cooley, F.l. (1997). Panggilan Kristen Dalam Hubungan Antar Umat Beragama” dalam Bunga Rampai Mengenang HUT ke – 70 dari P.D. Latuihamallo: Konteks Berteologi di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Diputhera, I.G.N.O. (1996). Toleransi dan Kebebasan Beragama Telah Menjadi Pandangan HidupBangsa Indonesia” dalam Peranan Agama-Agama Dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dalam Negara Pancasila Yang Membangun. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Direktorat Bimas Kristen. (2018). Pidato Direktur Jenderal Bimas Kristen dalam Majalah Pelita Kristen Media Informasi & Komunikasi Bimas Kristen. Jakarta: Ditjen Bimas Kristen.

Direktorat Bimas Kristen. (2018). Pidato Presiden dalam Majalah Pelita Kristen Media Informasi & Komunikasi Bimas Kristen. Jakarta: Ditjen Bimas Kristen.

Direktorat Bimas Kristen. (2019). Mozaik Moderasi Beragama Dalam Perspektif Kristen oleh Thomas Pentury. Jakarta: BPK Gunung Mulia & Ditjen Bimas Kristen.

Direktorat Bimas Kristen. (2019). Mozaik Moderasi Beragama Dalam Perspektif Kristen oleh Sumanto Al-Qurtuby. Jakarta: BPK Gunung Mulia & Ditjen Bimas Kristen.

Direktorat Bimas Kristen. Pidato Menteri Agama dalam Majalah Pelita Kristen Media Informasi & Komunikasi Bimas Kristen. Jakarta: Ditjen Bimas Kristen.

Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI, Direktori Gereja-Gereja, Yayasan. (2011). Pendidikan Agama dan Keagamaan Kristen di Indonesia. Jakarta: Aristik Citra Nuansapratama.

Efendi, D. (1996). Agama, Ideologi dan Politik Dalam Negara Pancasila”, dalam Pancasila Yang Membangun,” dalam Peranan Agama-Agama Dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dalam Negara Pancasila Yang Membangun. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Latuihamallo, P.D. (1999). Fungsi Etika Sosial Dalam Masyarakat Majemuk” (peny.) Pramudianto dan Martin L. Sinaga., dalam Pergulatan dan Kontekstualisasi Pemikiran Protestan Indonesia. Jakarta: BPK Gunung mulia.

Manalu, S. R., Santosa, H. P., & Luqman, Y. (2007). Teori Relational Dialectics Dalam Konteks Relasi Budaya Jawa. Jurnal Ilmu Sosial, 6(1), 20-31.

Masduki, M. (2014). Filosofi Interaksi Sosial Lintas Agama: Wawasan Islam. Toleransi, 6(1), 107-122.

Nugroho, T. (2003). Filsafat Manusia. Yogyakarta: APMD.

Permadi, K. (1996). Peranan Agama-Agama Dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.” Dalam Pancasila Yang Membangun” dalam dalam Peranan Agama-Agama Dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dalam Negara Pancasila Yang Membangun. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Robiyanto, F., Kanzanuddin, M., & Martino, A. (2015). Persepsi Akademisi Mengenai Peranan Kehidupan Beragama di Indonesia Dalam Perspektif Sosial Budaya (Studi Pada Universitas Muria Kudus). Jurnal Sosial Budaya, 5(1), 1-10.

Sairin, W. (Ed.). (2002). Kerukunan umat beragama pilar utama kerukunan berbangsa: butir-butir pemikiran. BPK Gunung Mulia.

Sekertariat Negara Indonesia. (1983). Undang-Undang Dasar. Jakarta: CV Remeo Indonesia.

Setyaningrum, A. (2003). Multikulturalisme Sebagai Identitas Kolektif, Kebijakan Politik dan Realitas Sosial. Jurnal Ilmu Sosial dan Politik, 7(2003).

Sharif, M. (2004). Religious-historical perspective on conflicts and violence: Secular materialism versus spiritual humanism. International journal of sociology and social policy, 24(1/2), 56-85. https://doi.org/10.1108/01443330410790966

Simatupang, T. B. (1995). Iman Kristen dan Pancasila.

Sudomo. (2002). Beberapa Pemikiran Sekitar Pembangunan Rumah Ibadah”, dalam Kerukuranan Umat Beragama (ed) Wainata Sairin. Jakarta: BPK: Gunung Mulia.

Sutarno. (2004). “Tanggung Jawab Etis Terhadap Politik” (peny. Daniel Nuhamara, dkk.) dalam Didalam Dunia Tetapi Tidak Dari Dunia. Jakarta: BPK Gunung Mulia dan Salatiga: Satya Wacana University Press.

Tim Pembinaan Penataran Pegawai Republik Indonesia. (1981). Bahan Penataran. Jakarta: TPPRI.

Widi, A. (1997). Menjadi Gereja Misioner dalam Konteks Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia dan Kanisius: Yogyakarta.

Yewangoe, A. A. (2002). Iman, Agama, Dan Masyarakat Dalam Negara Pancasila. Bpk Gunung Mulia.

Published
2019-04-25
How to Cite
Kawangung, Y. (2019). Religious moderation discourse in plurality of social harmony in Indonesia. International Journal of Social Sciences and Humanities, 3(1), 160-170. https://doi.org/10.29332/ijssh.v3n1.277
Section
Articles